a. Metode Pembelajaran - Metode Ceramah
Metode ceramah merupakan metode yang
paling umum atau paling banyak digunakan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran.
Metode ceramah merupakan salah satu metode yang digunakan untuk menyampaikan
informasi atau materi pelajaran kepada siswa dalam kegiatan pembelajaran. Wina
Sanjaya mendefinisikan “ metode ceramah dapat diartikan sebagai cara menyajikan
pelajaran melalui penuturan lisan atau penjelasan langsung kepada sekelompok
siswa.” (Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran, h. 147.) “ Metode ceramah adalah
metode yang boleh dikatakan metode tradisional, karena sejak dulu metode ini
telah dipergunakan sebagai alat komunikasi lisan antara guru dengan anak didik
dalam proses belajar mengajar.” (Yatim Riyanto, Pengembangan Kurikulum, h. 27.)
Berdasarkan pendapat tersebut bisa disimpulkan bahwa metode ceramah merupakan
metode yang sudah sejak lama digunakan dalam kegiatan pembelajaran, khususnya
pada kegiatan pembelajaran yang bersifat konvesional atau pembelajaran yang
berpusat pada guru (teacher centered). Pemilihan metode ceramah pada umumnya
digunakan karena sudah menjadi kebiasaan dalam suatu kegiatan pembelajaran. Di
samping itu juga, metode ceramah digunakan karena guru biasanya belum puas
kalau dalam kegiatan pembalajaran tidak melakukan ceramah. Demikian juga dengan
siswa, mereka akan belajar manakala ada guru yang memberikan materi pelajaran
melalui ceramah, sehingga kalau ada guru yang berceramah berarti ada kegiatan
pembelajaran dan jika tidak ada guru berarti tidak ada kegiatan pembelajaran.
Ada beberapa alasan yang mengapa metode ceramah sering digunakan, alasan ini
merupakan sekaligus menjadi keunggulannya. Keunggulan-keunggulannya adalah:
Guru mudah menguasai kelas. Mudah mengorganisasikan tempat duduk/kelas. Dapat
diikuti oleh jumlah siswa yang besar. Mudah mempersiapkan dan melaksanakannya.
Guru mudah menerangkan pelajaran dengan baik. (Syaiful Bahri Djamarah &
Azwan Zain, Strategi Pembelajaran, h. 97.) Di samping keunggulan-keunggulan
tersebut, metode ceramah juga memiliki kelemahan-kelemahan.
Kelemahan-kelemahannya adalah: Mudah terjadi verbalisme (pengertian kata-kata).
Yang visual menjadi rugi, yang auditif (mendengar) yang besar menerimanya. Bila
selalu digunakan dan terlalu lama, membosankan. Guru menyimpulkan bahwa siswa
mengerti dan tertarik pada ceramahnya, ini sukar sekali. (Ibid, h. 97.)
b) Metode Pembelajaran - Metode
Diskusi
”metode diskusi adalah cara
penyajian pelajaran, di mana siswa-siswa dihadapkan kepada suatu masalah yang
bisa berupa pernyataan atau pertanyaan yang bersifat problematis untuk dibahas
dan dipecahkan bersama.”(Ibid, h. 87.) Metode diskusi merupakan salah satu
metode pembelajaran yang dilakukan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran dengan
memberikan siswa suatu permasalahan untuk diselesaikan bersama-sama. Sehingga
akan terjadi interaksi antara dua atau lebih siswa untuk saling bertukar
pendapat, informasi, maupun pengalaman masing-masing dalam memecahkan
permasalahan yang diberikan oleh guru. Dengan demikian diharapkan tidak akan ada
siswa yang pasif. Tujuan penggunaan metode diskusi dalam kegiatan pembelajaran
seperti yang diungkapkan Killen (1998) adalah ” tujuan utama metode ini adalah
untuk memecahakan suatau permasalahan, menjawab pertanyaan, menambah dan
memahami pengatahuan siswa, serta untuk membuat suatu keputusan.” (Wina
Sanjaya, Strategi Pembelajaran, h. 154.) Metode diskusi sangat tepat digunakan
untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam bekerjasama untuk memecahkan masalah
serta melatih siswa untuk mengeluarkan pendapat secara lisan. Dalam
pembelajaran matematika metode diskusi sangat tepat digunakan pada
materi-materi yang menantang untuk sama-sama dipecahkan, misalnya materi
bangun-bangun geometri, peluang dan konsep bila
ngan. Adapun dalam pelaksanaan metode diskusi, guru harus benar-benar mampu mengorganisasikan siswa sehingga diskusi dapat berjalan seperti yang diharapkan. Menurut Bridges (1979) dalam pelaksanaan metode diskusi, guru harus mengatur kondisi yang memungkinkan agar: Setiap siswa dapat berbicara mengeluarkan gagasan dan pendapatnya. Setiap siswa harus saling mendengar pendapat orang lain. Setiap harus dapat mengumpulkan atau mencatat ide-ide yang dianggap penting. Melalui diskusi setiap siswa harus dapat mengembangkan pengatahuannya serta memahami isu-isu yang dibicarakan dalam diskusi. (Ibid, h. 155.) Setiap metode pembelajaran pasti memiliki keunggulan dan kelemahan, begitu juga dengan metode diskusi. Ada beberapa keunggulan dari metode diskusi, yaitu: Siswa memperoleh kesempatan untuk berpikir. Siswa mendapat pelatihan mengeluarkan pendapat, sikap dan aspirasinya secara bebas. Siswa belajar bersikap toleran terhadap teman-temannya. Diskusi dapat menumbuhkan partisipatif aktif dikalangan siswa. Diskusi dapat mengembangkan sikap demokratif, dapat menghargai pendapat orang lain. Dengan diskusi, pelajaran menjadi relevan dengan kebutuhan masyarakat. (Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran (Bandung: Alfabeta, 2008), h. 208.) Di samping itu juga, ada beberapa kelemahan-kelemahan penggunaan metode diskusi, di antaranya: Diskusi terlalu menyerap waktu. Pada umumnya siswa tidak terlatih untuk melakukan diskusi dan menggunakan waktu diskusi dengan baik, maka kecenderungannya mereka tidak sanggup berdiskusi. Kadang-kadang guru tidak sanggup memahami cara-cara melaksanakan diskusi, maka kecenderungannya diskusi tanya jawab. (Ibid, h. 209.)
ngan. Adapun dalam pelaksanaan metode diskusi, guru harus benar-benar mampu mengorganisasikan siswa sehingga diskusi dapat berjalan seperti yang diharapkan. Menurut Bridges (1979) dalam pelaksanaan metode diskusi, guru harus mengatur kondisi yang memungkinkan agar: Setiap siswa dapat berbicara mengeluarkan gagasan dan pendapatnya. Setiap siswa harus saling mendengar pendapat orang lain. Setiap harus dapat mengumpulkan atau mencatat ide-ide yang dianggap penting. Melalui diskusi setiap siswa harus dapat mengembangkan pengatahuannya serta memahami isu-isu yang dibicarakan dalam diskusi. (Ibid, h. 155.) Setiap metode pembelajaran pasti memiliki keunggulan dan kelemahan, begitu juga dengan metode diskusi. Ada beberapa keunggulan dari metode diskusi, yaitu: Siswa memperoleh kesempatan untuk berpikir. Siswa mendapat pelatihan mengeluarkan pendapat, sikap dan aspirasinya secara bebas. Siswa belajar bersikap toleran terhadap teman-temannya. Diskusi dapat menumbuhkan partisipatif aktif dikalangan siswa. Diskusi dapat mengembangkan sikap demokratif, dapat menghargai pendapat orang lain. Dengan diskusi, pelajaran menjadi relevan dengan kebutuhan masyarakat. (Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran (Bandung: Alfabeta, 2008), h. 208.) Di samping itu juga, ada beberapa kelemahan-kelemahan penggunaan metode diskusi, di antaranya: Diskusi terlalu menyerap waktu. Pada umumnya siswa tidak terlatih untuk melakukan diskusi dan menggunakan waktu diskusi dengan baik, maka kecenderungannya mereka tidak sanggup berdiskusi. Kadang-kadang guru tidak sanggup memahami cara-cara melaksanakan diskusi, maka kecenderungannya diskusi tanya jawab. (Ibid, h. 209.)
c) Metode Pembelajaran - Metode
Tanya Jawab
”Metode tanya jawab adalah cara
penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari
guru kepada siswa,tetapi dapat pula dari siswa kepada guru.”(Syaiful Bahri
Djamarah & Azwan Zain, Strategi Belajar, h. 94.) Jadi, metode tanya jawab
adalah interaksi dalam kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan komunikasi
verbal, yaitu dengan memberikan siswa pertanyaan untuk dijawab, di samping itu
juga memberikan kesempatan pada siswa untuk mengajukan pertanyaan kepada guru.
Metode tanya jawab digunakan sebagai sarana untuk menguji penguasaan siswa
secara verbal terhadapa materi yang telah dipelajari. Di samping itu, metode
jawab memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih memahami pelajaran yang
belum dimengerti dengan cara bertanya. Metode tanya jawab sebaiknya digunakan
pada materi-materi pelajaran umumnya sulit dimengerti siswa. Dalam hal tersebut
guru harus peka mambaca kondidi anak didiknya sebelum memutuskan menggunakan
meot tanya jawab. Keunggulan-keunggulan dari metode tanya jawab adalah:
Pertanyaan menarik dapat menarik dan memusatkan perhatian siswa, sekalipun
ketika siswa sedang ribut, yang mengantuk kembali tegar dan hilang kantuknya.
Merangsang siswa untuk melatih dan mengembangkan cara berpikir, termasuk daya
ingatan. Mengembangkan keberanian dan keterampilan siswa dalam menjawab dan
mengemukakan pendapat. (Ibid, h. 95.) Adapun kelemahan-kelemahan dari metode
tanya jawab ini adalah: Siswa merasa takut, apalagi bila kurang dapat mendorong
siswa untuk berani, dengan menciptakan suasana yang tidak tegang, melainkan
akrab. Tidak mudah membuat pertanyaan yang sesuai dengan tingkat berpikir dan
mudah dipahami siswa. Waktu sering banyak terbuang, terutama apabila siswa
tidak dapat menjawab pertanyaan sampai dua atau tiga orang. Dalam jumlah siswa
yang banyak, tidak mungkin cukup waktu untuk memberikan pertanyaan kepada
setiap siswa. (Ibid, h. 95.)
d) Metode Pembelajaran - Metode
Demonstrasi
”Metode demonstrasi adalah metode
penyajian pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan kepada siswa
tentang suatu proses, situasi, atau benda tertentu, baik sebenarnya atau hanya
sekedar tiruan.”(Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran, h. 152.) Berdasarkan
pendapat tersebut, bahwa metode demonstrasi digunakan untuk memperagakan
tentang suatu proses, situasi, atau benda tertentu terkait dengan materi
pelajaran yang dipelajari dengan tujuan menyajikan pelajaran dengan lebih konkrit
sehingga materi pelajaran yang disampaikan akan lebih berkesan bagi siswa dan
membentuk pemahaman yang mendalam dan sempurna. Metode demonstrasi dibutuhkan
dalam pembelajaran matematika terutama materi-materi yang membutuhkan alat
peraga pembelajaran. Ini untuk menanamkan pemahaman yang mendasar dan
konstruktif terhadap materi yang dipelajari. Metode demonstrasi sangat tepat
digunakan pada materi Bangun-bangun geometri. Keunggulan-keunggulan metode
demontrasi adalah: Perhatian murid dapat dipusatkan kepada hal-hal yang
dianggap penting oleh guru sehingga hal yang penting itu dapat diamati. Dapat
membimbing murid ke arah berpikir yang sama dalam satu saluran pikiran yang
sama. Ekonomis dalam jam pelajaran di sekolah dan ekonomis dalam waktu yang
panjang dapat diperlihatkan melalui demonstrasi dengan waktu yang pendek. Dapat
mengurangi kesalaham-kesalahan bila dibandingkan dengan hanya membaca atau
mendengarkan, karena murid mendapatkan gambaran yang jelas ari hasil
pengamatannya. Karena gerakan dan proses dipertunjukkan maka tidak memerlukan
keterangan-keterangan yang banyak. Beberapa persoalan yang menimbulkan
pertanyaan atau keraguan dapat diperjelas waktu proses demonstrasi. ( Syaiful
Sagala, Konsep dan Makan, h. 211. ) Kelemahan-kelemahan metode demontrasi
adalah: Metode ini memerlukan keterampilan guru secara khusus, karena tanpa
ditunjang dengan hal itu, pelaksanaan demonstrasi akan tidak efektif. Fasilitas
seperti peralatan, tempat, dan biaya yang memadai tidak selalu tersedia dengan
baik. Demonstrasi memerlukan kesiapan dan perencanaan yang matang di samping
memerlukan waktu yang cukup panjang, yang mungkin terpaksa mengambil waktu atau
jam pelajaran lain. (Syaiful Bahri Djamarah & Azwan Zain, Strategi Belajar,
h. 91.)
e) Metode Pembelajaran - Metode
Pemberian Tugas dan Resitasi
”Metode resitasi (penugasan) adalah
metode penyajian bahan dimana guru memberikan tugas tertentu agar siswa
melakukan kegiatan belajar.”(Ibid, h. 85.) Jadi, bisa disimpulkan bahwa metode
tugas dan resitasi adalah metode pembelajaran yang dilakukan dengan memberikan
tugas tertentu kepada siswa untuk dikerjakan dan hasilnya dapat
dipertanggungjawabkan. Tugas yang diberikan guru dapat memperdalam materi
pelajaran dan dapat pula mengevaluasi materi yang telah dipelajari. Sehingga
siswa akan terangsang untuk belajar aktif baik secara individual maupun
kelompok. Keunggulan-keunggulan metode tugas dan resitasi adalah: Baik sekali
untuk mengisi waktu luang dengan hal-hal yang konstruktif. Memupuk rasa
tanggung jawab dalam segala tugas sebab dalam strategi ini siswa harus
mempertanggung jawabkan segala sesuatu (tugas) yang telah dikerjakan.
Memberikan kebiasaan siswa untuk giat belajar. Memberikan tugas siswa untuk
sifat yang praktis. ( Zuhairini, dkk, Metodik Khusus Pendidikan Agama Islam
(Surabaya: Usaha Nasional, 1983), h. 98.) Kelemahan-kelemahan metode tugas dan
resitasi adalah: Tidak jarang pekerjaan yang ditugaskan itu diselesaikan dengan
meniru pekerjaan orang lain. Karena perbedaan individu, maka tugas apabila
diberikan secara umum mungkin beberapa orang diantaranya merasa sukar sedangkan
sebagian lainnya merasa mudah menyelesaikan tugas tersebut. Apabila tugas
diberikan, lebih-lebih bila itu sukar dikerjakan, maka ketenangan mental para
siswa menjadi terpengaruh. (Ali Pande & Imansyah, Didaktik Metode
(Surabaya: Usaha Nasional, 1984), h. 92.)
f) Metode Pembelajaran - Metode
Eksperimen
”Metode eksperimen (percobaan)
adalah cara penyajian pelajaran, di mana siswa melakukan percobaan dengan
mengalami dan membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajar.”(Syaiful Bahri
Djamarah & Azwan Zain, Strategi Belajar, h. 84.) Dalam kegiatan
pembelajaran yang menggunakan metode eksperimen, siswa diiberikan kesempatan
untuk mengalami sendiri atau melakukan sendiri, mengikuti proses, mengamati objek,
menganalisis, membuktikan dan menarik kesimpulan tentang suatu permasalahan
terkait materi yang diberikan. Peran guru sangat penting pada metode
eksperimen, khususnya dalam ketelitiandan kecermatan sehingga tidak terjadi
kekeliruan dan kesalahan memaknai kegiatan eksperimen dalam kegiatan
pembelajaran. Pemahaman siswa akan lebih kuat dan mendalam jika siswa diberikan
kesempatan untuk mengalami secara langsung dalam suatu proses, analisis dan
pengambilan kesimpulan terhadap suatu masalah. Hal ini akan menimbulkan
kepercayaan pada siswa bahwa yang dipelajari merupakan suatu yang benar dan
dapat dipertanggungjawabkan. Pembelajaran matematika dikatakan ilmu pasti, yang
artinya bahwa setiap pernyataan dalam matematika dapat dibuktikan secara
analitis dan logis. Mengingst hal tersebut maka metode eksperimen sangat
dibutuhkan dalam pembelajaran matematika khususnya pada materi-materi yang
membutuhkan keterlibatan siswa secara langsung, misalnya materi Peluang, Konsep
bilangan, dan Bangun-bangun geometri. Keunggulan-keunggulan metode eksperimen
adalah: Metode ini dapat membuat siswa lebih percaya atas kebenaran dan
kesimpulan berdasarkan percobaannya sendiri dari pada hanya menerima kata guru
atau buku saja. Dapat mengembangkan sikap untuk studi eksploratis tentang sains
dan teknologi, suatu sikap dari seorang ilmuan. Metode ini didukung oleh
azas-azas didaktik modern. (Syaiful Sagala, Konsep dan Makna, h. 220-221.)
Kelemahan-kelemahan metode eksperimen adalah: Metode ini lebih sesuai dengan
bidang-bidang sains dan teknologi. Metode ini memerlukan berbagai fasilitas
peralatan dan bahan yang tidak selalu mudah diperoleh dan mahal. Metode ini
menuntut ketelitian, keuletan dan dan ketabahan. Setiap percobaan tidak selalu
memberikan hasil yang diharapkan karena mungkin ada faktor-faktor tertentu yang
berada di luar jangkauan kemampuan dan pengendalian. (Syaiful Bahri Djamarah
& Azwan Zain, Strategi Belajar, h. 85.)
g) Metode Pembelajaran - Metode
Problem Solving (Pemecahan Masalah)
Metode problem solving (metode pemecahan
masalah) merupakan metode pembelajaran yang dilakukan dengan memberikan suatu
permasalahan, yang kemudian dicari penyelasainnya dengan dimulai dari mencari
data sampai pada kesimpulan. Seperti apa yang ungkapkan oleh Syaiful Bahri
Djamarah dan Aswan Zain bahwa, Metode problem solving (metode pemecahan
masalah) bukan hanya sekedar metode mengajar, tetapi juga merupakan metode
berpikir, sebab dalam problem solving dapat menggunakan metode-metode lainnya
yang dimulai dengan mencari data sampai kepada menarik kesimpulan. (Ibid, h.
91.) Lebih lanjut dikatakan bahwa dalam penggunaan metode problem solving
mengikuti langkah-langkah sebagai berikut: Adanya masalah yang jelas untuk
dipecahkan. Mencari data atau keterangan yang digunakan untuk memecahkan masalah
tersebut. Menetapkan jawaban sementara dari masalah tersebut. Menguji kebenaran
jawaban sementara tersebut. Menarik kesimpulan. (Ibid, h. 92.)
Keunggulan-keunggulan metode problem solving (metode pemecahan masalah) adalah:
Pemecahan masalah (problem solving) merupakan tehnik yang cukup bagus untuk
memahami isi pelajaran. Pemecahan masalah (problem solving) dapat menantang
kemampuan siswa serta memberikan siswa kepuasan untuk menemukan pengetahuan
baru bagi siswa. Pemecahan masalah (problem solving) dapat meningkatkan
aktifitas pembelajaran siswa. Pemecahan masalah (problem solving) dapat
membantu siswa bagaimana mentransfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah
dalam kehidupan nyata. Pemecahan masalah (problem solving) dapat membantu siswa
untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggungjawab dalam pembelajaran
yang mereka lakukan. Melalui pemecahan masalah (problem solving) bisa
memperlihatkan kepada siswa bahwa setiap mata pelajaran (matematika, IPA,
sejarah, dan lain sebagainya), pada dasarnya merupakan cara berpikir, dan
sesuatu yang harus dimengerti oleh siswa, bukan hanya sekedar belajar dari guru
atau dari buku-buku saja. Pemecahan masalah (problem solving) dianggap lebih
menyenangkan dan disukai siswa. Pemecahan masalah (problem solving) dapat
mengembangkan kemampuan siswa berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan
mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan baru. Pemecahan masalah (problem
solving) dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk mengaplikasikan
pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata. Pemecahan masalah (problem
solving) dapat mengembangkan minat siswa untuk secara terus menerus belajar
sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir. (Wina Sanjaya,
Strategi Pembelajaran, h. 220-221.) Kelemahan-kelemahan metode problem solving
(metode pemecahan masalah) adalah: Menentukan suatu masalah yang tingkat
kesulitannya sesuai dengan tingkat berpikir siswa, tingkat sekolah dan kelasnya
serta pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki siswa, sangat memerlukan
kemampuan dan keterampilan guru. Proses belajar mengajar dengan menggunakan
metode ini sering memerlukan waktu yang cukup banyak dan sering terpaksa
mengambil waktu pelajaran. Mengubah kebiasaan siswa belajar dengan mendengarkan
dan menerima informasi dari guru menjadi belajar dengan banyak berpikir
memecahkan permasalahan sendiri atau kelompok, yang kadang-kadang memerlukan
berbagai sumber belajar, merupakan kesulitan tersendiri bagi siswa. (Syaiful
Bahri Djamarah & Azwan Zain, Strategi Belajar, h. 93.)
Read more at: http://aadesanjaya.blogspot.com/2011/09/metode-pembelajaran-dan-macam-macamnya.html
Copyright aadesanjaya.blogspot.com
Read more at: http://aadesanjaya.blogspot.com/2011/09/metode-pembelajaran-dan-macam-macamnya.html
Copyright aadesanjaya.blogspot.com
Definisi /
pengertian metode pembelajaran menurut beberapa ahli. Pendidikan memegang peran penting
dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang berkaualitas. Oleh karena itu,
pendidikan hendaknya dikelola, baik secara kualitas maupun kuantitas. Hal
tersebut bisa tercapai apabila siswa dapat menyelesaikan pendidikan tepat pada
waktunya dengan hasil belajar yang baik. Hasil belajar seseorang, ditentukan oleh berbagai
faktor yang mempengaruhinya. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi hasil
belajar seseorang yaitu, kemampuan guru (profesionalisme guru) dalam mengelola
pembelajaran dengan metode-metode yang tepat, yang memberi kemudahan bagi siswa
untuk mempelajari materi pelajaran, sehingga menghasilkan pembelajaran
yang lebih baik.
Metode
pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk
mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan
praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode
pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi
pembelajaran, diantaranya: (1) ceramah; (2) demonstrasi; (3) diskusi; (4)
simulasi; (5) laboratorium; (6) pengalaman lapangan; (7) brainstorming; (8)
debat, (9) simposium, dan sebagainya.
Menurut Nana
Sudjana (2005: 76) metode pembelajaran adalah, “Metode pembelajaran ialah
cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat
berlangsungnya pengajaran”. Sedangkan M. Sobri Sutikno (2009: 88)
menyatakan, “Metode pembelajaran adalah cara-cara menyajikan materi pelajaran
yang dilakukan oleh pendidik agar terjadi proses pembelajaran pada diri siswa
dalam upaya untuk mencapai tujuan”.
Berdasarkan
definisi / pengertian metode pembelajaran yang dikemukakan tersebut di atas
dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran merupakan suatu cara atau strategi
yang dilakukan oleh seorang guru agar terjadi proses belajar pada diri siswa
untuk mencapai tujuan. Benny A. Pribadi (2009: 11) menyatakan, “tujuan proses
pembelajaran adalah agar siswa dapat mencapai kompetensi seperti yang
diharapkan. Untuk mencapai tujuan proses pembelajaran perlu dirancang secara
sistematik dan sistemik”. Banyak metode yang digunakan seorang guru dalam
pembelajaran passing bawah bolavoli, antara lain dengan menggunakan metode
pembelajaran inovatif dan konvensional.
Demikian
artikel tentang pengertian / definisi metode
pembelajaran yang saya
susun berdasarkan pendapat beberapa ahli pendidikan yang saya share
mudah-mudahan artikel ini bisa bermanfaat bagi pembaca. Trims...
Contoh metode pembelajaran
Cooperative adalah mengerjakan sesuatu
bersama-sama dengan saling membantu satu sama lain sebagai satu tim. Sedangkan
Cooperative Learning artinya belajar bersama-sama, saling membantu antara satu
sama lain dalam belajar dan memastikan bahwa setiap orang dalam kelompok
mencapai tujuan atau tugas yang telah ditentukan sebelumnya (Eng Tek dalam
Kanda, 2001: 27).
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa
Cooperative Learning adalah menyangkut teknik mengelompokkan yang didalamnya
siswa bekerja terarah pada tujuan belajar bersama pada kelompok kecil yang
umumnya tediri dari empat atau lima orang.
Ada lima unsur dasar yang membedakan Cooperative
Learning dengan kerja kelompok, ciri Cooperative Learning yaitu akuntabilitas
individual, interaksi tatap muka, keterampilan seusia, proses kelompok dan
saling ketergantungan yang positif.
Ketergantungan positif adalah perasaan diantara
anggota kelompok dimana keberhasilan seseorang merupakan keberhasilan yang
lainnya pula atau sebaliknya. Untuk menciptakan suasana tersebut, guru perlu
merancang struktur kelompok, tugas-tugas kelompok yang memungkinkan setiap
siswa untuk belajar mengevaluasi dirinya dengan teman kelompoknya dalam
penguasaan dan kemampuan memahami bahan pelajaran.
Kondisi seperti ini memungkinkan setiap siswa merasa
adanya ketergantungan secara positif pada anggota kelompok lainnya dalam
mempelajari dan menyelesaikan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya, yang
mendorong setiap anggota kelompok untuk bekerja sama.
Penyerapan model Cooperative Learning dalam
pembelajaran dimaksudkan untuk memperkuat pelajaran akademik setiap anggota
kelompok dengan tujuan agar para siswa lebih berhasil dalam belajar dari pada
belajar sendiri. Sebagai konsekuensinya untuk menjamin bahwa setiap siswa
berhasil dan benar-benar bertanggung jawab terhadap pelajarannya sendiri maka
setiap siswa harus diberi tanggung jawab secara individual untuk mengerjakan
bagian tugasnya sendiri dan mengetahui apa yang telah ditargetkan dan yang
harus dipelajari. Oleh karena itu, unsur terpenting yang harus dipahami oleh
para guru adalah apabila tugas dibagi dalam kelompok jangan sampai hanya
diperiksa/dievaluasi atau tidaknya tugas itu dikerjakan secara kelompok,
melainkan harus terjadi interdepensi tugas antara kelompok karena tujuan
Cooperative Learning bukan terselesaikannya tugas-tugas kelompok, tetapi para
siswa belajar dalam kehidupan kelompok yang mampu saling membelajarkan antar
anggota kelompoknya
Ketergantungan yang positif dalam Cooperative Learning
akan memotivasi para siswa untuk bertanggung jawab terhadap keberhasilan
temannya, kemampuan untuk saling mempengaruhi dalam membuat alasan dan
kesimpulan antara satu dengan yang lain, social modeling, dukungan social,
apabila guru dalam menstruktur kelompok dalam bentuk interaksi tatap muka.
Interaksi tatap muka selain memberikan motivasi yang penting bagi performans
seorang siswa juga akan meningkatkan saling mengetahui keberhasilan akademik setiap
siswa dan personal masing-masing. Cara ini akan mendukung dan memperkuat makna
ketergantungan yang positif dan mempermudah siswa untuk mempromosikan
keberhasilan siwa yang lain sebagai keberhasilan kelompok.
Penguasaan keterampilan sosial dalam Cooperative
Learning perlu dimiliki para siswa terutama dalam menyelesaikan tugas-tugas
kelompok. Namun karena para siswa baru saja ditempatkan dalam kelompok-kelompok
dan diharapkan dapat menerapkan keterampilan sosial yang tepat, maka tidak
secara otomatis mereka akan mampu menerapkannya dengan baik. Sedangkan dalam
Cooperative Learning para siswa dituntut untuk memiliki kemampuan interaksi
seperti mengajukan pendapat, mendengarkan opini teman, menampilkan
kepemimpinan, kompromi, negoisasi dan klasifikasi secara teratur untuk
menyelesaikan tugas-tugasnya. Oleh karena itu, untuk memenuhi persyaratan
tersebut, guru perlu menerangkan dan mempraktekkan tingkah laku dan sikap-sikap
interaksi sosial yang diharapkan untuk dilakukan.
Proses kelompok terjadi ketika anggota kelompok
mendiskusikan seberapa baik mereka mencapai tujuan dan memelihara kerjasama
yang efektif. Para siswa perlu mengetahui tingkat-tingkat keberhasilan
pencapaian tujuan dan efektivitas kerjasama yang telah dilakukan.
Untuk memperoleh informasi itu, para siswa perlu
mengadakan perbaikan-perbaikan secara sistematis tentang bagaimana mereka telah
bekerja sama sebagai satu tim, dalam hal :
- Seberapa baik tingkat pencapaian tujuan kelompok
- Bagaimana mereka saling membantu satu sama lain
- Bagaimana mereka bersikap dan bertingkah laku positif untuk memungkinkan setiap individu dan kelompok secara keseluruhan menjadi berhasil, dan
- Apa yang mereka butuhkan untik melakukan tugas-tugas yang akan datang supaya lebih berhasil.
Sesuai dengan filosofi kontruktivisme, bahwa dalam
proses pembelajaran guru tidak mendokrinasi gagasan saintifik, sehingga sistem
perubahan gagasan siswa adalah siswa itu sendiri. Guru hanya berperan sebagai
fasilitator, penyedia “kondisi” supaya proses pembelajaran dalam upaya memperoleh
konsep pengukuran volume berlangsung benar. Beberapa pola yang harus
dikembangkan oleh guru yang mengacu kepada Cooperative Learning sesuai dengan
filosofi kontruktivisme adalah :
- Guru mengarahkan siswa untuk melaksanakan diskusi kelompok
- Mendorong siswa untuk mengadakan penelitian sederhana lewat alat peraga yang dimanipulasi
- Guru mendorong siswa untuk melaksanakan kegiatan praktis dan memberi peluang untuk mempertanyakan dan memodifikasi serta mempertajam gagasannya
Perbedaan
Banyak yang tidak paham dengan perbedaan anatara
strategi, model,pendekatan, metode, dan teknik. Nah berikut ini ulasan singkat
tentang perbedaan istilah tersebut.
Model pembelajaran adalah bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikansecara khas oleh guru di kelas. Dalam model pembelajaran terdapat strategi pencapaian kompetensi siswa dengan pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.
Model pembelajaran adalah bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikansecara khas oleh guru di kelas. Dalam model pembelajaran terdapat strategi pencapaian kompetensi siswa dengan pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.
Pendekatan adalah konsep dasar yang
mewadahi,menginsipi rasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan
cakupan teoretis tertentu.
Metode pembelajaran adalah prosedur,
urutan,langkah- langkah, dan cara yang digunakan guru dalam pencapaian tujuan
pembelajaran. Dapat dikatakan bahwa metode pembelajaran merupakan jabaran dari
pendekatan. Satu pendekatan dapat dijabarkan ke dalam berbagai metode
pembelajaran.
Dapat pula dikatakan bahwa metode adalah prosedur pembelajaran yang difokuskan ke pencapaian tujuan.
Dapat pula dikatakan bahwa metode adalah prosedur pembelajaran yang difokuskan ke pencapaian tujuan.
Dari metode, teknik pembelajaran diturunkan
secara aplikatif, nyata, dan praktis di kelas saat pembelajaran berlangsung.
Teknik adalah cara kongkret yang dipakai saat
proses pembelajaran berlangsung. Guru dapat berganti- ganti teknik meskipun
dalam koridor metode yang sama. Satu metode dapat diaplikasikan melalui
berbagai teknik pembelajaran.
Bungkus dari penerapan pendekatan, metode, dan teknik pembelajarantersebut dinamakan model pembelajaran.
Bungkus dari penerapan pendekatan, metode, dan teknik pembelajarantersebut dinamakan model pembelajaran.
Sebagai ilustrasi, saat ini banyak remaja putri
menggunakan model celana Jablai yangterinspirasi dari lagu dangdut dan film
Jablai. Sebagai sebuah model, celana jablai berbeda dengan celana model lain
meskipun dibuat berdasarkan pendekatan, metode, dan teknik yang sama. Perbedaan
tersebut terletak pada sajian, bentuk, warna, dan disainnya. Kembali ke
pembelajaran, guru dapat berkreasi dengan berbagai model pembelajaran yang khas
secara menarik, menyenangkan, dan bermanfaat bagi siswa. Model guru tersebut
dapat pula berbeda dengan model guru di sekolah lain meskipun dalam persepsi
pendekatan dan metode yang sama.
Oleh karena itu, guru perlu menguasai dan dapat
menerapkan berbagai strategi yang di dalamnya terdapat pendekatan, model, dan
teknik secara spesifik. Dari uraian di atas, dapat dikatakan bahwa sebenarnya
aspek yang juga paling penting dalam keberhasilan pembelajaran adalah
penguasaan model pembelajaran.
Sumber:
www.klubguru. Com
www.klubguru. Com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar